Skip to main content

PTN-BH Tidak Dapat Tukin Dosen ASN, MSA PTNBH Sepakat Naikkan UKT Mahasiswa?

 PTN-BH Tidak Dapat Tukin Dosen ASN, MSA PTNBH Sepakat Naikkan UKT Mahasiswa? 

https://www.jangkauindonesia.com/nasional/55514562971/ptn-bh-tidak-dapat-tukin-dosen-asn-msa-ptnbh-sepakat-naikkan-ukt-mahasiswa

Kebijakan terbaru terkait pembayaran tunjangan kinerja (Tukin) bagi dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) di perguruan tinggi negeri (PTN) memunculkan ketidakadilan dan berpotensi berdampak pada peningkatan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.

Berdasarkan aturan yang berlaku, Tukin dosen ASN hanya diberikan kepada PTN berstatus satuan kerja (Satker) serta PTN Badan Layanan Umum (BLU) yang belum menerapkan skema remunerasi.

Sementara itu, PTN BLU yang telah menerapkan remunerasi dan PTN berbadan hukum (PTN BH) yang memiliki sistem insentif mandiri tidak mendapatkannya.

Kebijakan ini menuai kritik dari berbagai kalangan. Dosen yang bekerja di PTN BLU dengan sistem remunerasi dan PTN BH merasa diperlakukan tidak adil.

“Kami juga merupakan ASN yang mengemban tugas negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi hak kami atas tunjangan kinerja tidak diakomodasi,” ungkap salah satu dosen PTN BH yang enggan disebutkan namanya.

Ketimpangan ini berisiko menyebabkan ketidakpuasan di kalangan dosen, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.


Selain itu, ketidakseimbangan dalam pembayaran Tukin ini dapat mendorong PTN BLU yang sudah remunerasi dan PTN BH untuk menutup kekurangan anggaran dengan cara lain, seperti menaikkan UKT mahasiswa.

“Jika insentif bagi dosen berkurang, universitas mungkin harus mencari sumber pendapatan lain, dan salah satu yang paling mungkin adalah meningkatkan UKT mahasiswa. Ini tentu akan menjadi beban tambahan bagi para mahasiswa dan orang tua,” kata seorang akademisi dari PTN BLU yang sudah mendapatkan remunrem.

Sementara itu, dalam rapat Majelis Senat Akademik (MSA) PTNBH se-Indonesia yang digelar di Universitas Hasanuddin (UNHAS) pada tanggal 13-14 Februari, beredar bocoran informasi bahwa para perwakilan Senat PTN BH 'sepakat' bahwa kenaikan UKT mahasiswa menjadi salah satu opsi untuk menutupi ketidakseimbangan anggaran akibat tidak diberikannya Tukin bagi dosen di PTN BH dan PTN BLU yang sudah menerapkan remunerasi (Insentif berbasis Kinerja).

Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa mahasiswa maupun orang tua yang akan menjadi pihak yang menanggung konsekuensi dari kebijakan ini di tahun ajaran 2025.

Pihak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikti-Saintek) diharapkan segera mencari solusi agar tidak terjadi kesenjangan kesejahteraan bagi para dosen ASN di berbagai jenis PTN dan kenaikan UKT Mahasiswa pada kampus PTN-BH yang sudah unggul karena harus menanggung sendiri beban pembayaran dosen ASN nya.

Perlu adanya revisi kebijakan yang lebih adil dan mempertimbangkan kesejahteraan seluruh tenaga pendidik tanpa membebani mahasiswa dengan kenaikan biaya pendidikan.

Sejumlah pihak mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan ini agar prinsip keadilan bagi semua dosen ASN dapat ditegakkan.

ADAKSI (Aliansi Dosen ASN KEMDIKTI-SAINTEK Seluruh Indonesia), mengungkapkan Tukin dosen mesti cair dan tak membedakan tempat mereka mengabdi baik itu di LLDIKTI, PTN Satker, PTN BLU Non Remun, PTN BLU ada Remun, maupun PTN BH.

"Tukin merupakan hak bagi seluruh dosen ASN tanpa diskriminasi berdasarkan status perguruan tinggi tempat mereka mengabdi," demikian isi pernyataan sikap ADAKSI yang ditandatangani Ketua Umum, Fatimah, dan Sekretaris, Agusriandi, Jumat malam, 14 Februari 2024.

 

Comments

Popular posts from this blog

Logic Analyzer with STM32 Boards

https://sysprogs.com/w/how-we-turned-8-popular-stm32-boards-into-powerful-logic-analyzers/ How We Turned 8 Popular STM32 Boards into Powerful Logic Analyzers March 23, 2017 Ivan Shcherbakov The idea of making a “soft logic analyzer” that will run on top of popular prototyping boards has been crossing my mind since we first got acquainted with the STM32 Discovery and Nucleo boards. The STM32 GPIO is blazingly fast and the built-in DMA controller looks powerful enough to handle high bandwidths. So having that in mind, we spent several months perfecting both software and firmware side and here is what we got in the end. Capturing the signals The main challenge when using a microcontroller like STM32 as a core of a logic analyzer is dealing with sampling irregularities. Unlike FPGA-based analyzers, the microcontroller has to share the same resources to load instructions from memory, read/write th...

The Difference Between LEGO MINDSTORMS EV3 Home Edition (#31313) and LEGO MINDSTORMS Education EV3 (#45544)

http://robotsquare.com/2013/11/25/difference-between-ev3-home-edition-and-education-ev3/ This article covers the difference between the LEGO MINDSTORMS EV3 Home Edition and LEGO MINDSTORMS Education EV3 products. Other articles in the ‘difference between’ series: * The difference and compatibility between EV3 and NXT ( link ) * The difference between NXT Home Edition and NXT Education products ( link ) One robotics platform, two targets The LEGO MINDSTORMS EV3 robotics platform has been developed for two different target audiences. We have home users (children and hobbyists) and educational users (students and teachers). LEGO has designed a base set for each group, as well as several add on sets. There isn’t a clear line between home users and educational users, though. It’s fine to use the Education set at home, and it’s fine to use the Home Edition set at school. This article aims to clarify the differences between the two product lines so you can decide which...

Let’s ban PowerPoint in lectures – it makes students more stupid and professors more boring

https://theconversation.com/lets-ban-powerpoint-in-lectures-it-makes-students-more-stupid-and-professors-more-boring-36183 Reading bullet points off a screen doesn't teach anyone anything. Author Bent Meier Sørensen Professor in Philosophy and Business at Copenhagen Business School Disclosure Statement Bent Meier Sørensen does not work for, consult to, own shares in or receive funding from any company or organisation that would benefit from this article, and has no relevant affiliations. The Conversation is funded by CSIRO, Melbourne, Monash, RMIT, UTS, UWA, ACU, ANU, ASB, Baker IDI, Canberra, CDU, Curtin, Deakin, ECU, Flinders, Griffith, the Harry Perkins Institute, JCU, La Trobe, Massey, Murdoch, Newcastle, UQ, QUT, SAHMRI, Swinburne, Sydney, UNDA, UNE, UniSA, UNSW, USC, USQ, UTAS, UWS, VU and Wollongong. ...